AS Mundur, China Dirayu Lanjutkan Proyek Kebanggaan Jokowi

Jakarta, CNBC Indonesia –¬†Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, pihaknya sedang mencari pengganti untuk menyelesaikan proyek hilirisasi batu bara atau gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Pencarian investor baru ini buntut dari hengkangnya perusahaan petrokimia asal Amerika Serikat (AS) yakni Air Products and Chemicals Inc dari konsorsium proyek tersebut.

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara, Irwandy Arif mengatakan saat ini sudah ada perusahaan asal China yang berprogres untuk menjajaki program gasifikasi batu bara di Indonesia.

“Sementara ini memang ada satu perusahaan dari China. Cuma saya belum tahu seberapa jauh progres dari mereka mencari partner ini,” ungkapnya saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (29/12/2023).

Adapun, proyek hilirisasi batu bara menjadi DME di Indonesia belum berjalan lagi hingga saat ini pasca Air Products hengkang dari Tanah Air. “Sejak mundurnya Air Product kita itu berhenti (hilirisasi batu bara ke DME), ada yang mengganti misalnya KPC ke Ammonia, PTBA masih mencari pengganti partner dan lain-lain,” ucapnya.

Dia menyebutkan saat ini proyek gasifikasi batu bara di dalam negeri belum ada yang serius yang mana saat ini perusahaan baik dalam maupun luar negeri masih fokus pada feasibility study (FS) gasifikasi batu bara menjadi DME. “Kalau gasifikasi belum ada yang jalan, masih FS,” tambahnya.

Irwandy juga mengatakan saat ini mundurnya Air Products masih menjadi persoalan bagaimana proyek gasifikasi batu bara di Indonesia akan berjalan. “Air Product sudah memundurkan diri kan, ini yang jadi persoalan bagaimana caranya bisa berjalan khususnya PKP2B jadi IUPK itu kewajiban mereka untuk lakukan hilirisasi batubara,” tandasnya.

Seperti diketahui, salah satu negara yang sudah mengembangkan gasifikasi batu bara menjadi DME adalah Negara Tirai Bambu atau China.

Toyo Engineering Corporation (TOYO), produsen DME asal Jepang, akhirnya membangun pabrik DME di China pada 2002 karena diminta oleh salah satu perusahaan pupuk terkemuka asal Provinsi Sichuan, China, Lutianhua Group Inc. Pabrik ini mulai beroperasi pada tahun 2003. Namun, ini masih berbahan baku dari gas alam.

Setelah mencapai kinerja operasional yang sangat baik, TOYO kemudian melanjutkan proyek DME ke-2 berkapasitas 110.000 ton/tahun di China, dan masih berbasis gas alam.

Tak berhenti di situ, TOYO kemudian melanjutkan dengan proyek pabrik DME ke-3 dengan kapasitas produksi 210.000 ton/tahun dan telah beroperasi sejak 2007. Penyerap DME-nya yaitu Shenhua Ningxia Coal Group Co. Ltd. Lalu, pabrik DME ke-4 dengan kapasitas produksi 140.000 ton/tahun yang diserap oleh Shanxi Lanhua Clean Energy Co. Ltd. Adapun proyek DME ke-3 dan 4 tersebut berbahan baku batu bara.

Sebagai informasi, DME adalah sumber energi bersih dan sejenisnya tidak menghasilkan sulfur oksida atau jelaga selama pembakarannya dampak lingkungan rendah.

Mengingat sifatnya yang tidak beracun, DME mudah ditangani dan karenanya bisa digunakan sebagai bahan bakar sektor domestik (pengganti LPG), bahan bakar transportasi (kendaraan diesel, kendaraan sel bahan bakar), pembangkit listrik bahan bakar (pembangkit termal, pembangkit kogenerasi, sel bahan bakar stasioner), dan sebagai bahan baku produk kimia. https://selerapedas.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*