Bumi Terpanggang Panas Mendidih, Malapetaka di mana-mana

Jakarta, CNBC Indonesia РMusim kemarau di Indonesia dan berbagai negara di dunia pada tahun 2023 terasa lebih panas menyengat dan kering ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Akibatnya, negara-negara di dunia melaporkan potensi penurunan produksi pangan, termasuk di Indonesia. Memicu pengetatan ekspor pangan, sehingga negara-negara berlomba-lomba melakukan pendekatan untuk bisa mengimpor pangan. Efek dominonya, terjadi lonjakan harga pangan dunia hingga berulang kali cetak rekor. 

Di Indonesia sendiri, kemarau ekstrem diprediksi menyebabkan produksi beras nasional susut sekitar 1,2 juta ton. Harga beras berulang kali cetak rekor, diikuti harga gula dan cabai.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut cuaca panas di Indonesia juga menyerang banyak tempat di dunia.

“Tahun ini adalah tahun penuh rekor temperatur. Kondisi ini tidak pernah terjadi sebelumnya, dimana heat wave (gelombang panas) terjadi banyak tempat secara bersamaan,” katanya dalam keterangan di situs resmi BMKG, (18/11/2023).

“Juli 2023 lalu, heat wave yang melanda Amerika Barat bahkan mencapai 53 derajat Celcius,” tambah Dwikorita.

Menurutnya, suhu pada bulan Juni hingga Agustus merupakan tiga bulan terpanas sepanjang sejarah dan bulan Juli 2023 menjadi bulan paling panas.

“Realitas evolusi iklim tersebut, menjadikan tahun 2023 berpeluang menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan iklim, mengalahkan tahun 2016,” katanhya.

“Situasi ini terjadi merupakan dampak dari perubahan iklim yang juga memberi tekanan tambahan pada sumber daya air yang sudah langka dan menghasilkan apa yang dikenal dengan water hotspot,” papar Dwikorita.

Dia menambahkan, kondisi ini semakin meningkatkan kerentanan terhadap stok pangan dunia.

“FAO atau Organisasi Pangan dan Pertanian bahkan memprediksi jika hal ini terus terjadi maka di tahun 2050 mendatang bencana kelaparan akan terjadi akibat krisis pangan,” sebutnya.

Panas Mendidih di mana-mana

Tak hanya kekeringan yang mengancam ketahanan pangan. Suhu panas dan kemarau ekstrem juga memicu petaka lain.

Sejumlah negara bahkan melaporkan adanya gelombang panas dan suhu berulang kali cetak rekor tertinggi. Seperti yang melanda India, Bangladesh, dan China.

Kekeringan terjadi di mana-mana. Pemandangan bendungan yang menyusut dan mengering ada di mana-mana, seperti Bendungan Katulampa di Indonesia. Juga danau-danau dan sungai di luar negeri, seperti Danau Puraquequeara Amazon, Brasil.

BMKG pada 7 Maret 2023 lalu mengumumkan musim kemarau terjadi lebih awal dan ada peluang El Nino melanda Indonesia. Kemudian, El Nino dikonfirmasi melanda Indonesia pada bulan Juli 2023 lalu.

Intensitas El Nino terus menguat hingga BMKG mengubah prediksinya mengenai puncak El Nino, dari Agustus-September 2023 menjadi Oktober-November 2023.

Indeks El Nino dilaporkan terus meningkat, dari lemah menuju kuat dan moderat. BMKG kemudian memprediksi, El Nino akan bertahan sampai April 2024 nanti, dengan intensitas diharapkan semakin menurun atau melemah.

Sejumlah daerah di Indonesia mengalami lonjakan suhu yang signifikan. Bahkan pernah tembus 38 derajat Celcius.

Selain itu, beberapa kali terjadi kondisi clear sky atau sama sekali tak ada tutupan awan di langit. Kondisi ini menyebabkan suhu panas terasa semakin terik dan menyengat. BMKG pun memperingatkan bahaya efek UV sinar matahari yang tinggi dan merekomendasikan masyarakat tidak berlama-lama terpapar sinar matahari di jam-jam tertentu dan harus menggunakan tabir surya.

Petugas damkar menyiram jalan protokol di Kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (25/8). Upaya ini dilakukan untuk mengurangi dampak polusi udara di Jakarta.

Biang Kerok Utama

Lalu apa pemicu suhu panas mendidih pada tahun ini? Apakah murni hanya karena El Nino?

Ternyata tidak.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, ada 3 faktor utama penyebab cuaca panas di Indonesia semakin tinggi.

Namun, imbuh dia, meski cuaca panas menyengat, Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di negara lain. Hal itu karena Indonesia adalah negara kepulauan dan memiliki perairan yang luas.

Dia menjelaskan, keberadaan lautan di kepulauan Indonesia itu berfungsi sebagai pendingin sehingga Indonesia tak sampai mengalami kenaikan suhu rata-rata sampai atau lebih 5 derajat Celcius selama 5 hari berturut-turut.

“Apa penyebab suhu tinggi di Indonesia? Ada tiga penyebab. Pertama, karena adanya anomali iklim El Nino yang dipengaruhi suhu muka permukaan laut pasifik di ekuator bagian timur yang berakibat pada minimnya pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia,” jelasnya dalam Nation Hub CNBC Indonesia, dikutip Jumat 13/10/2023).

“Kedua, akibat adanya anomali iklim di Indian Ocean Dipole (IOD) positif di wilayah Samudera Hindia di ekuator bagian barat. Ini juga menyebabkan minimnya pembentukan awan hujan di Indonesia,” tambah Dwikorita.

Akibat minimnya pembentukan awan hujan tersebut, terang dia, penyinaran matahari di wilayah Indonesia di selatan ekuator langsung ke bumi tanpa ada tameng pelindung berupa awan hujan.

“Akibatnya, penyinaran itu lebih intensitas penyinaran matahari lebih kuat,” ujarnya.

“Dan, karena efek gerak semu matahari di bulan September-Oktober ini, menyebabkan wilayah di selatan ekuator, Jawa, juga Nusa Tenggara mengalami penyinaran matahari yang lebih intens,” imbuhnya.

Penyebab ketiga, lanjut Dwikorita, cuaca panas menyengat kali ini dipengaruhi angin dari Australia yang lebih kering. Menyebabkan musim kemarau kali ini lebih menyengat.

“Angin dari Australia ini kering, mengakibatkan kelembaban semakin rendah. Jadi, sudah panasnya meningkat, kelembaban rendah, jadi terasa semakin menyengat,” katanya.

Dia menjabarkan, wilayah Indonesia yang mengalami panas tertinggi saat ini adalah Kota Semarang dan Kertajati, Majalengka.

“Pantauan stasiun klimatologi pada 6 Oktober 2023, suhu maksimum harian di Semarang mencapai 38,6 derajat Celcius, dan pada 7 Oktober di Kertajati mencapai 38,8 derajat Celcius,” katanya.

“El Nino saat ini ada di level moderat dan diprediksi berlanjut sampai Januari-Februari tahun depan, dan melemah hingga Maret. Sehingga El Nino masih berlangsung sampai akhir Maret, Insya Allah berakhir di April,” terang Dwikorita.

Akibat fenomena iklim tersebut, sejumlah wilayah di Indonesia mengalami hari tanpa hujan (HTH) panjang dan ekstrem panjang.

Mengutip Buletin Iklim BMKG edisi Desember (Senin 18/12/2023), hingga tanggal 30 November 2023, sebanyak 50% dari 4.360 titik pengamatan masih mengalami hari tanpa hujan secara berturut-turut. Dengan kategori sangat pendek sampai ekstrem panjang.

“Sebanyak 1.991 titik (45.67%) mengalami hari tanpa hujan kategori Sangat Pendek, 106 titik (2.43%) mengalami hari tanpa hujan kategori Pendek, 51 titik (1.17%) mengalami hari tanpa hujan kategori Menengah, 7 titik (0.16%) mengalami hari tanpa hujan kategori Panjang,” tulis BMKG.

“4 titik (0.09%) mengalami hari tanpa hujan kategori Sangat Panjang dan 25 titik (0.57%) mengalami hari tanpa hujan kategori Ekstrem Panjang. hari tanpa hujan terpanjang terjadi di Kabupaten Lombok Utara, provinsi Nusa Tenggara Barat selama 214 hari,” sebut BMKG.

Musim Hujan Datang, El Nino Berakhir?

Memasuki bulan Desember 2023, sejumlah daerah di Indonesia akhirnya mengalami hujan. Meski, El Nino belum berakhir.

BMKG memperingatkan potensi hujan sedang-lebat hingga bisa memicu banjir di sejumlah wilayah Indonesia. Di saat bersamaan, BMKG mengungkapkan, hasil monitoring ENSO Dasarian III November 2023 menunjukkan indeks ENSO (+2.194), sedangkan IOD sebesar (+1.709).

“Kondisi IOD positif diprediksi bertahan hingga akhir tahun 2023, sedangkan El Nino diprediksi terus bertahan setidaknya hingga April 2024,” tulis BMKG. https://buerinas.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*