Jungkir Balik Jokowi Bawa Pulang Dolar Eksportir ke RI

Jakarta, CNBC Indonesia –¬†Awal Januari 2023, Indonesia dihebohkan dengan likuiditas dolar yang seret di Tanah Air. Kondisi ini memprihatinkan karena Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2023 mengalami surplus untuk ke-32 kali sejak 2021.

Selama 32 bulan beruntun, nilai ekspor menyentuh US$ 632,9 miliar atau sekitar Rp 9.540 triliun. BPS mencatat Indonesia membukukan surplus sejak Mei 2020 hingga November 2022. Sepanjang 2022, Indonesia bahkan sukses membukukan ekspor senilai US$ 291,98 miliar pada 2022.

Ini adalah nilai ekspor tertinggi dalam sejarah. Ironisnya, cadangan devisa (cadev) justru menurun US$ 7,7 miliar pada tahun lalu, dibandingkan posisi US$ 144,91 miliar pada Desember 2021. Hal ini menimbulkan tanda tanya. Kemana dolar eksportir disimpan?

Presiden Joko Widodo saat itu meminta bank sentral untuk turun tangan menahan dolar eksportir di dalam negeri. Presiden meminta BI meramu aturan tegas. 

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui bank sentral telah mendeteksi gejala ini sejak 2022. Destry mengungkapkan sejak awal Desember, BI sudah terus juga koordinasi dengan pemerintah. Saat itu, BI merasa ada kekhawatiran karena kalau ekspor 2022 cukup tinggi yakni US$ 291 miliar dan surplus neraca perdagangannya mencapai US$ 55 miliar.

“Saat itu ada rasa kenapa ya dana itu gak masuk di perbankan kita. Ternyata ada periode di mana dolar lagi menguat semua negara itu membutuhkan dolar sehingga terjadi persaingan suku bunga antara negara. Bukan hanya antar bank tapi antar negara,” ujarnya.

BI mempunyai tanggung jawab atas hal ini karena salah satu mandat BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar dan salah satu syaratnya adalah dengan memiliki pasokan dolar yang mencukupi.

Pada Februari 2023, BI memperkenalkan instrumen baru, yakni operasi moneter valas dengan menawarkan instrumen tenor 1 dan 3 bulan. Namun, instrumen ini akan terus diperluas ke depannya sejalan pengaturan DHE yang baru.

Instrumen tersebut bernama term deposit valas atau TD Valas. Instrumen ini mulai berlaku pada 1 Maret 2023.

Instrumen TD Valas DHE memfasilitasi penempatan DHE oleh eksportir di Bank Indonesia melalui bank yang ditunjuk (appointed bank) sesuai dengan mekanisme pasar. Instrumen ini bertujuan untuk mendorong serapan DHE guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat perekonomian domestik. Eksportir dapat menempatkan dana dari rekening khusus (Reksus) DHE melalui appointed bank kepada Bank Indonesia.

Aturan ini dirilis sekaligus menunggu langka pemerintah yang berjanji akan merevisi aturan DHE. Hingga April 2023, revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2019 tentang devisa hasil ekspor tak kunjung terbit. Padahal pembahasan sudah mulai sejak akhir tahun lalu.

Baru pada Juli 2023, pemerintah merilis aturan baru DHE khusus sumber daya alam (SDA). Kebijakan DHE itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 36 tahun 2023 tentang DHE dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam sebagai pengganti PP nomor 1 tahun 2019. Aturan tersebut dinyatakan berlaku efektif per 1 Agustus 2023

Peraturan pemerintah itu mewajibkan pengusaha untuk memarkir 30% DHE SDA ke dalam sistem keuangan Indonesia. Disebutkan dalam Pasal 6 Ayat (1), DHE sumber daya alam (SDA) dimasukkan ke dalam sistem keuangan Indonesia melalui rekening khusus pada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dan/atau bank yang melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing.

Pemarkiran devisa wajib dilaksanakan paling lambat akhir bulan ketiga setelah pendaftaran pemberitahuan pabean ekspor (PPE).

Kemudian pada Ayat 2 pasal tersebut memaparkan, penempatan DHE SDA dalam rekening khusus diwajibkan terhadap eksportir yang memiliki DHE SDA dengan nilai ekspor pada PPE paling sedikit US$ 250.000 atau ekuivalennya.

Simulasi pelaksaan DHE SDA. (Dok. Kemenko Perekonomian)

Dolar Eksportir Betah di Singapura

Tak dipungkiri seretnya DHE masuk ke perbankan dalam negeri disebabkan oleh kemudahan dan cuan bunga deposito valas yang ditawarkan Negeri Jiran, Singapura.

Direktur Teknis Kepabeanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, R. Fadjar Donny Tjahjadi mengatakan, dari hasil pemantauan pihaknya, kondisi ini lebih disebabkan ekspor Indonesia yang lebih memilih menaruh dolar hasil ekspornya ke negara lain, seperti Singapura.

“Memang kalau kita perhatikan dalam fenomena terakhir tidak bisa dipungkiri ada pendapatan dari hasil ekspor yang disimpan di bank-bank Singapura yang kita lihat di tengah fenomen penguatan dolar Amerika,” kata Fajar di acara Power Lunch CNBC Indonesia.

Menurut Fajar, kecenderungan eksportir menempatkan dolarnya di bank-bank Singapura ketimbang perbankan dalam negeri karena tingkat suku bunga deposito yang ditawarkan mereka jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. Mereka menawarkan tingkat bunga hingga 3-4%.

“Kalau kita perhatikan sepertinya di Bank Singapura ini menawarkan rate yang lebih tinggi, lebih dari 3-4% setahun untuk dolar AS yang biasanya ditempatkan di deposito berjangka,” ujar dia.

Sementara itu, tingkat suku bunga deposito yang ditawarkan bank-bank di Indonesia menurutnya rata-rata hanya dikisaran 1,25-1,75% saja dalam satu tahun. Akibatnya selisih suku bunga ini yang membuat para eksportir dalam negeri tak tertarik menempatkan dolarnya di dalam negeri.

“Sehingga karena daya tarik keuntungan untuk menyimpan atau menabung di perbankan luar negeri memang lebih besar sehingga kecenderungannya eksportir tidak mau menaruh uang di Indonesia,” tuturnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat Konferensi Pers Devisa Hasil Ekspor (DHE) di Selasar Kretagama, Jakarta,  Jumat (28/7/2023). (CNBC Indonesia, Muhammad Sabki)

Kalangan pengusaha pun mengakui bahwa bunga menyimpan uang valas di dalam negeri tidak sebesar negara tetangga. Hal ini bisa menjadi indikasi faktor bahwa banyak orang lebih memilih untuk menyimpan dana hasil ekspor di Singapura.

“Menyimpan USD di dalam negeri (deposito) bunga nya lebih kecil di banding menyimpan USD di Singapore (saat ini),” kata ketua umum (ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Benny Soetrisno kepada CNBC Indonesia.

Tak bisa dipungkiri banyak pendapatan ekspor Indonesia disimpan di bank-bank Singapura di tengah-tengah fenomena penguatan dolar AS. Semakin banyak dolar hasil ekspor disimpan di luar negeri, maka mengganggu stabilitas rupiah.

Hal ini dikarenakan bank di Negeri Jiran tersebut menawarkan lebih dari 3% setahun untuk dolar AS yang ditempatkan di deposito berjangka. Jauh lebih tinggi dibandingkan di dalam negeri yang hanya rata-rata 0,38%.

“Karena bunga untuk deposito USD di Singapore lebih tinggi dibanding bunga di dalam negeri,” kata Benny.

Dolar Eksportir Pulang Kampung

Saat aturan baru DHE dirilis, BI ‘pede’ devisa hasil ekspor (DHE) yang disimpan di dalam negeri bisa mencapai US$ 8-9 miliar per bulan.

“Kami optimis US$ 8-9 miliar per bulan,” ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Selasa (1/8/2023).

Perry mengungkapkan instrumen untuk DHE di dalam negeri telah cukup beragam. Ada 7 (tujuh) jenis instrumen yang dapat menjadi instrumen penempatan DHE SDA dan pemanfaatan atas instrumen penempatan DHE SDA tersebut.

Pertama, rekening khusus DHE SDA; kedua, deposito valas bank; ketiga, Term Deposit Valas DHE SDA; keempat, Promissory Notes Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI); kelima, penempatan deposito valas yang dapat dimanfaatkan menjadi agunan kredit Rupiah; keenam, Swap Valas Nasabah – Bank, dan ketujuh Swap Valas Bank – BI.

Sekitar akhir Agustus 2023, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Perry menyampaikan sebanyak 64 eksportir SDA telah menempatkan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri melalui instrumen term deposit (TD) valas DHE SDA. Seiring bertambahnya jumlah eksportir tersebut, BI mengklaim penempatan DHE di dalam negeri naik sebesar US$605 juta.

Sayangnya, cadangan devisa hingga akhir Desember 2023 tidak menunjukkan perubahan signifikan. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2023 tercatat sebesar US$ 138,1 miliar, naik dibandingkan dengan posisi pada akhir Oktober 2023 sebesar US$ 133,1 miliar. Kenaikan ini tetap belum menyamai cadangan devisa di akhir 2021 yang mencapai US$ 145 miliar.

Padahal, BI mengatakan devisa hasil ekspor (DHE) yang ditempatkan di instrumen Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE) mencapai US$ 2,4 miliar.

“Trennya mengalami peningkatan dan posisi terakhir pada Desember itu mencapai 2,4 miliar dolar AS,” kata Destry dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Desember 2023 di Jakarta, Kamis (21/12/2023).

Destry menuturkan saat ini ada sekitar 150-an perusahaan yang telah menempatkan DHE dalam negeri lewat instrumen TD Valas DHE dengan 17 bank yang terlibat.

Kemudian, pada November 2023, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui bahwa aturan DHE ini belum maksimal dan pemerintah akan melakukan evaluasi.

“Terhadap DHE, karena DHE belum maksimal untuk 3 bulan ini dan kami masih lihat potensi US$ 8 miliar dari devisa ini masih parkir di tempat lain,” katanya dalam konferensi pers, Selasa (7/11/2023).

Pengumpulan DHE yang belum maksimal memang dipengaruhi oleh kondisi harga komoditas. Airlangga mengatakan harga komoditas saat ini memang relatif lebih rendah ketimbang tahun lalu. Ini tercermin dari hasil ekspor Indonesia yang turun dari sisi nilai. Tren surplus berlanjut, namun nilainya menciut. Hingga akhir Desember 2023, pemerintah belum mengungkapkan kembali kelanjutan revisi aturan DHE ini. https://mendapatkankol.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*