“Kiamat” Makanan Ancam Dunia karena Rusia

Jakarta, CNBC Indonesia – “Kiamat” makanan di bumi menjadi salah satu berita populer di 2023. Ini terjadi setelah Rusia keluar dari Black Sea Grain Initiatives (Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam).

Perjanjian itu awalnya berguna untuk melindungi produk pertanian Ukraina dari blokade tentara Rusia di Laut Hitam dan serangan drone. Di sisi lain, bagi Rusia, ini adalah langkah memuluskan ekspor pertanian dan pupuknya, menjauhkannya dari sanksi pembayaran Barat.

Meski sudah terjalin sejak Juli 2022, dengan mediator Turki dan PBB, sejak Senin lalu, Rusia enggan memperpanjang perjanjian itu. Negeri Presiden Vladimir Putin menyinyalir kebijakan hanya menguntungkan Ukraina, diekspor bukan ke negara miskin malah negara kaya, dan tak menguntungkan Rusia karena saksi masih dilakukan.

Rusia pun membombardir kota-kota pelabuhan pangan Ukraina, tempat sejumlah ekspor komoditas penting-gandum, jagung, jelai dan minyak bunga matahari. Rusia pun dilaporkan terus menyerang kota pelabuhan selatan Ukraina, Odesa.

“Faktanya, perjanjian Laut Hitam tidak lagi berlaku hari ini,” tegas juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, kala itu dimuat Reuters.

“Sayangnya, bagian dari perjanjian Laut Hitam terkait Rusia sejauh ini belum diterapkan, jadi pengaruhnya dihentikan,” tambahnya.

Sebelumnya, pasukan Rusia menyerbu perbatasan Ukraina pada akhir Februari 2022. Kedua negara diketahui merupakan salah satu lumbung pangan dunia.

Peperangan Rusia dan Ukraina pun telah mengganggu jalur distribusi pangan bagi dunia, utamanya negara-negara seperti Timur Tengah dan Afrika. Pasalnya, wilayah itu cukup bergantung dari pasokan keduanya.

Pengiriman produk pertanian sempat terhenti selama hampir enam bulan. Ini baru terbuka setelah perwakilan dari Ukraina, Rusia, PBB, dan Turki setuju untuk membangun koridor laut kemanusiaan dengan Black Sea Grain Initiatives.

Kesepakatan itu, yang ditengahi Juli tahun lalu. Ini meredakan blokade laut Rusia dengan pembukaan kembali tiga pelabuhan utama Ukraina.

Di bawah kesepakatan itu, lebih dari 1.000 kapal yang membawa hampir 33 juta metrik ton produk pertanian telah berangkat dari pelabuhan Odessa, Chornomorsk, dan Yuzhny-Pivdennyi di Ukraina. Perjanjian tersebut juga mengawasi pengangkutan 725.167 ton gandum untuk berlayar dengan kapal Program Pangan Dunia ke beberapa negara paling rawan pangan di dunia, seperti Afghanistan, Ethiopia, Somalia, Sudan dan Yaman. https://nutriapel.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*