Kasus Korupsi Pembelian Lahan Rumah DP O Rupiah

PT Adonara Bayar Pakai Mobil Kreditan

Terdakwa pemilik PT Adonara Propertindo Rudi Hartono pakai topi dan Direktur PT Adonara Propertindo Tommy Adrian di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat. (Foto: Istimewa)
Terdakwa pemilik PT Adonara Propertindo Rudi Hartono pakai topi dan Direktur PT Adonara Propertindo Tommy Adrian di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka – PT Adonara Propertindo membayar pembelian tiga bidang lahan di Pulogebang, Jakarta Timur untuk program Rumah DP O Rupiah, secara mencicil. Pembayarannya tidak hanya dengan uang tunai, namun juga dengan mobil.

Mobil yang diserahkan ternyata masih berstatus kredit. Pihaknya leasing kemudian menagih kepada kurator, yang menerima pembayaran mobil dari PT Adonara.

Hal ini diungkap Hendra Roza Putra, kurator yang menangani aset pailit PT Asmawi Agung Corporation (Asco). Hendra dihadirkan sebagai saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin, 5 Februari 2024.

Duduk sebagai terdakwa pada sidang mantan Direktur Utama (Dirut) Perumda Pembangunan Sarana Jaya Yoory Corneles Pinontoan, Direktur PT Adonara Tommy Adrian, dan pemilik PT Adonara Rudi Hartono Iskandar.

Hendra menuturkan, PT Asco dinyatakan pailit pada tahun 2000. Ada 37 aset milik peru­sahaan yang harus dijual untuk mengembalikan kepada para kreditur. Tiga aset berupa lahan di Pulogebang yakni SHGB 1430/Pulo Gebang, SHGB 1888/Pulo Gebang, dan SHGB 1894/Pulo Gebang, yang kemudian dijual ke PT Adonara

“Kami sudah coba untuk melakukan upaya pelelangan tahun 2002, ternyata tidak ada yang berminat. Pada waktu itu tanahnya kosong, saya pasang plang untuk mengamankan aset,” tutur Hendra.

Seiring berjalannya waktu, mulai banyak penghuni liar yang menempati lahan kosong terse­but. Sehingga makin menyulit­kan Hendra menjual lahan itu.

Singkat cerita, tiga lahan itu berhasil dijual kepada PT Adonara Propertindo. Jaksa pun menanyakan kronologi penjualan lahan-lahan itu ke perusahaan milik Rudi Hartono.

Menurut Reza, ia menunjuk Okke Soedrajat sebagai kuasa penjual aset pailit PT Asco. Okke pun berkabar pada Hendra, ada pihak yang minat membeli tanah di Pulogebang.

“Saat itu yang berminat mem­beli aset siapa? PT Adonara ini kan?” tanya jaksa.

“Iya,” jawab Hendra.

Hendra lalu meminta Okke dan pihak PT Adonara, yaitu Rudi Hartono, agar melakukan pengecekan langsung ke lokasi lahan sekitar bulan Februari-Maret 2017.

Hal ini untuk meyakinkan kepada pembeli mengenai lo­kasi dan kondisi di lapangan. Ternyata telah banyak ditempati penghuni liar atau pihak ketiga.

“Pihak ketiga itu siapa?” tanya jaksa.” Haji Amin, Haji Syaiful, sama Azizah,” ungkap Hendra.

Mendapat kondisi ini, Hen­dra memerintahkan Okke melapor ke Polres Jakarta Timur. Juga berkoordinasi dengan PT Adonara. Okke dan PT Adonara kemudian mengecek ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) me­ngenai legalitas lahan-lahan itu dan ternyata benar milik PT Asco.

“Setelah dicek, valid. Arti­nya, tidak ada masalah. Keluar SHGB nomor sekian, nomor sekian,” tutur Hendra.

Setelah dilakukan pengosongan terhadap ketiga lahan tersebut, Hendra selaku Kurator PT Asco membuat kesepakatan harga jual tanah dengan PT Adonara. Dari harga yang ditawarkan sebesar Rp 2 juta per meter, kedua pihak sepakat di harga Rp 1,8 juta per meter. Untuk pengurusan sertifikat, pajak, dan lainnya dibebankan kepada PT Adonara.

Adapun harga untuk ketiga lahan itu Rp 75,3 miliar. Namun PT Adonara baru membayar sebesar Rp 55,9 miliar. “ Masih kekurangan Rp 19 miliar,” ujar Hendra.

“Nah, proses pembayarannya itu bagaimana? Apakah dia tu­nai, transfer?” tanya jaksa.

“Dikasih cash, ada juga yang transfer, ada juga dikasih cek,” beber Hendra.

“Ada tidak pembelian kenda­raan bermotor, mobil?” cecar jaksa.

“Ada. Jadi, pada tahun 2017-2018 ada kasih kendaraan juga sebagai bentuk pembayaran cicilan,” tutur Hendra.

Hendra lupa jumlah kendaraan yang diserahkan Rudi Hartono kepadanya. Mengacu Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Hen­dra, jaksa KPK menyebut jum­lah kendaraan yang diserahkan Rudi delapan Mobil. Rincian­nya Toyota Alphard tahun 2017 seharga Rp 1,43 miliar, Honda CR-V tahun 2017 seharga Rp 508 juta, Mercedes-Benz S500 seharga Rp 2,75 miliar, Range Rover Evoque seharga Rp 850 juta, Range Rover seharga Rp 3,5 miliar, Nissan seharga Rp 1,5 miliar, McLaren seharga Rp 5,75 miliar, dan Lexus seharga Rp 4,5 miliar.

Jaksa menanyakan, alasan Hendra menerima cicilan pem­bayaran dengan kendaraan dari Rudi Hartono. Pasalnya, harga kendaraan bakal mengalami penyusutan yang bisa merugikan PT Asco sebagai pemilik ketiga lahan tersebut.

“Saya juga nggak tahu kenapa, sehingga dia ngasih dalam ben­tuk fisik kendaraan. Nanti kita tinggal menilai saja jumlahnya itu sambil kita nanti melihat kekurangannya berapa yang harus dibayarkan. Tapi ada be­berapa kendaraan yang dikem­balikan,” beber Hendra.

“Mungkin kurang tepat kalau dikembalikan. Dijual lagi ke­pada terdakwa (Rudi Hartono),” jaksa meluruskan.

“Ada yang dikembalikan, ada yang dijual lagi,” kilah Hendra.

“Nah, kepada terdakwa ini. Saksi tahu kalau terdakwa (Rudi Hartono) ini punya showroom mobil?” tanya jaksa.

“Nggak tahu,” jawab Hendra.

“Kalau saksi pada saat mener­ima pembayaran kendaraan ini, saksi tahu ada beberapa unit kendaraan yang masih kredit, ma­sih proses leasing?” cecar jaksa.

“Nggak tahu. Saya tahunya ketika dia menyerahkan mobil, ada yang ngaku, ‘nah, ini mobil saya’,” tutur Hendra.

Hendra mengutarakan, Rudi Hartono menyerahkan mobil-mobil itu tanpa Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Rudi Hartono menjanjikan bakal menyerahkan BPKB beberapa hari kemudian.

Hendra berdalih, mau menerima pembayaran berupa kendaraan lan­taran melihat itikad baik dari Rudi Hartono. Sebelumnya, pihaknya telah beberapa kali memberikan surat teguran kepada PT Adonara karena keterlambatan pembayaran. Bahkan ia pernah l datang ke PT Adonara, namun tak pernah bisa bertemu Rudi Hartono.

Berdasarkan surat dakwaan ketiga terdakwa, tiga bidang ta­nah itu kemudian dipecah men­jadi enam SHGB atas nama PT Adonara Propertindo. Keenam­nya yakni SHGB nomor 04663, SHGB nomor 04662, SHGB nomor 04646, SHGB nomor 04645, SHGB nomor 04644, serta SHGB nomor 04643.

Seluruh tanah itu kemudi­an dijual kepada PT Sarana Jaya melalui Yoory Corneles Pinontoan dengan harga Rp 256.030.646.000.

Jaksa menuding, akibat pem­belian lahan itu telah memperka­ya Terdakwa Corneles Yoory se­jumlah Rp 31.817.379.000 dan Rudy Hartono Iskandar selaku pemilik PT Adonara Propertindo sebanyak Rp 224.213.267.000.

Pembelian tanah itu dilakukan tanpa adanya kajian analisa, tanpa adanya penilaian/appraisal dari konsultan, dan tanpa per­setujuan dari rapat pleno Direksi Sarana Jaya.

Pihak PT Adonara Propertindo menjanjikan Yoory Corneles akan memberikan fee sebesar 10 persen dari nilai transaksi.https://mantrasungokong.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*