Imbauan THR Bagi Ojol Semoga Bukan Pencitraan

Mirah Sumirat: THR Bagi Ojol Jangan Sampai Cuma Retorika

Mirah Sumirat, Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id)
Mirah Sumirat, Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menyatakan, Tunjangan Hari Raya (THR) untuk pengemudi transportasi daring atau ojek online (ojol), merupakan imbauan.

Menurut Kemenaker, besaran dan mekanisme pemberiannya, diserahkan kepada perusahaan.

“Terkait THR untuk ojol dan kurir online, kami mengimbau manajemen perusahaan aplikator agar lebih peduli kepada mitranya, untuk merayakan momen-momen penting seperti hari raya keagamaan,” ujar Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial (PHI dan Jamsos) Kemenaker Indah Anggoro Putri, dalam keterangan di akun media sosial resmi Ditjen PHI dan Jamsos, Rabu (20/3/2024).

Indah Anggoro Putri mengatakan, hubungan perusahaan aplikator dengan pengemudi transportasi daring saat ini, masuk dalam kerangka kemitraan. Karena itu, terkait bentuk THR, besarannya dan bagaimana mekanisme pemberiannya, dia menyarankan untuk dibicarakan dan dikomunikasikan di internal perusahaan masing-masing.

Pihaknya mengapresiasi kepedulian dan itikad baik dari platform digital yang sudah memberikan kemudahan bagi mitra ojol selama momen perayaan hari raya Idul Fitri, dengan memberikan berbagai insentif dan program.

“Sesuai imbauan, bentuk, besaran, serta mekanisme Tunjangan Hari Raya dapat diberikan dalam berbagai bentuk dan disesuaikan masing-masing perusahaan aplikasi,” jelas Indah.

Sebelumnya, Indah menyatakan bahwa kedua pekerjaan itu masuk dalam kategori Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), berdasarkan Surat Edaran Menaker Nomor M/2/HK.04/III/2024, tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2024, Bagi Pekerja/Buruh Di Perusahaan. 

Presiden Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Serikat Pekerja (ASPEK) Indonesia, Mirah Sumirat menyambut baik kebijakan Pemerintah tersebut. Namun, dia meminta agar imbauan itu bukan sekadar pencitraan.

Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani Aher mengatakan, imbauan dari Kemenaker perlu diikuti langkah-langkah nyata. Menurutnya, diperlukan pendekatan pada perusahaan transportasi daring, agar mau memberikan THR, demi kesejahteraan bagi para ojol dan kurir online.

Untuk membahas topik ini lebih lanjut, berikut wawancara dengan Mirah Sumirat.

Bagaimana tanggapan Anda, terkait imbauan Kemenaker tentang pemberian THR dari perusahaan aplikator ojol, untuk mitra atau drivernya?

Kami menyambut baik pernyataan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Kementerian Ketenagakerjaan, Indah Anggoro Putri, yang menyatakan bahwa ojek online dan kurir logistik berhak menerima THR 2024.

Imbauan ini baik ya?

ASPEK Indonesia juga memiliki anggota pekerja ojol dan kurir online. Kami menyambut baik terobosan yang dilakukan Kementerian Ketenagakerjaan. Namun, kami mengingatkan agar pernyataan Kementerian Ketenagakerjaan ini, jangan hanya menjadi retorika, atau hanya untuk menaikkan citra Pemerintah saja.

Maksudnya bagaimana?

Ketentuan THR ini, harus dapat dijalankan oleh seluruh perusahaan aplikasi ojol dan kurir online.

Apakah tidak cukup dengan imbauan?

Nah, kami mendesak Kementerian Ketenagakerjaan untuk tidak saja menerbitkan surat edaran dan imbauan saja, namun juga mengeluarkan aturan turunan lain, untuk memudahkan pelaksanaan di lapangan, agar pelaksanaannya lebih terarah.

Bagaimana kalau imbauan itu tidak dilaksanakan?

Mengenai itu, kami meminta agar Pemerintah melakukan pengawasan atas pelaksanaan pemberian THR bagi ojol dan kurir online ini.

Apa saran Anda?

Sudah saatnya Pemerintah memperhatikan kesejahteraan dan keadilan bagi pekerja berbasis aplikasi. Selain karena lemahnya perlindungan hak-hak pekerja ojol dan kurir online, juga karena penghasilan pekerja di sektor ini sangat minim, dengan jam kerja tak terbatas, lebih dari delapan jam per hari.

Jumlah pekerja di sektor ini berapa banyak ya?

Jumlah pekerja berbasis aplikasi, saat ini semakin meningkat. Pada saat yang sama, jumlah pekerja formal mengalami penurunan.https://mantrasungokong.com/wp-admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*