Kisah BCA, Lepas dari Salim & Jadi Rebutan Pengusaha Sedunia

Jakarta, CNBC Indonesia¬†– Sudah 66 tahun PT Bank Central Asia berdiri, tepatnya pada 21 Februari 1957. Titik terendah BCA barangkali berada di tahun 1998. Pada tahun tersebut bank swasta terbesar di Indonesia itu hampir bangkrut karena krisis ekonomi. Seluruh predikat ‘pertama’ yang melekat pada BCA: ATM pertama, tabungan pertama, dan bank swasta terbaik pertama, dalam sekejap terlupakan.

Ceritanya bermula dari tahun 1998, nasabah BCA menarik dana secara massal dan besar-besaran. Ratusan orang tiap harinya rela antre berjam-jam untuk menguras seluruh tabungannya. Situasi ini menjadi pukulan telak bagi keuangan BCA karena bisa dibilang tak lagi mendapat kepercayaan masyarakat.

Puncaknya terjadi pada Mei 1998. Seminggu setelah Soeharto lengser, tepat pada 28 Mei 1998, BCA yang kala itu dimiliki Salim Group diambil alih oleh pemerintah karena kondisi keuangannya semakin berdarah-darah tak tertolong. Pemerintah lewat Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) resmi menjadikan BCA sebagai BTO (Bank Taken Over). Pengambilalihan ini bertujuan untuk menolong BCA agar tidak jatuh terlalu dalam.

“Cara Salim kehilangan BCA hanya dalam tempo sepekan setelah pengunduran diri Soeharto mencerminkan kuatnya serangan balik publik kepadanya. Karena tak ada bekingan dari Soeharto, maka Salim menjadi sasaran empuk,” tulis Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016).

Pada 1999, pemerintah berencana menjual saham BCA lewat mekanisme di bursa efek. Harga yang ditawarkan sebesar Rp 1.400 per lembar saham. Namun, saham BCA tersebut ironisnya tidak laku. Masyarakat sulit percaya sebab BCA terlanjur memiliki sentimen negatif karena kedekatannya kepada Soeharto. Maklum, tahun-tahun tersebut kebencian terhadap Soeharto dan kroni-kroninya, termasuk Salim dan BCA, masih memanas.

Barulah tahun 2002 situasi mulai mereda dan Presiden Megawati sepakat menjual 51 persen saham BCA kepada publik. Richard Borsuk dan Nancy Chng mencatat ada 15 kandidat calon pembeli dari seluruh dunia yang ingin menguasai BCA. Namun, perlahan mengerecut menjadi empat. Mereka adalah Standard Chartered Bank, perusahaan Investasi AS Farallon, Bank Mega dan konsorsium indonesia yang dipimpin koperasi produsen batik.

Ketiga nama paling awal bersaing sengit untuk merebutkan saham BCA. Standard Chartered Bank terafiliasi dengan pemerintah Singapura. Lalu, Farallon bermitra dengan keluarga Hartono pemilik Djarum. Sedangkan Bank Mega dimiliki oleh pengusaha Chairul Tanjung.

Nama Chairul Tanjung sendiri jadi pembicaraan menarik sebab dikaitkan sebagai perpanjangan tangan Anthony Salim untuk menguasai kembali BCA. Saat itu, pendiri Bank Mega itu pernah tercatat memberi bantuan kepada BCA. Namun, rumor ini dibantah oleh Chairul sendiri.

“Kabar itu tidak benar. Hubungan saya dengan Anthony hanya mitra bisnis,” kata Chairul Tanjung dalam Chairul Tanjung: Si Anak Singkong (2012).

Pada akhirnya, Bank Mega harus gagal merebut BCA karena tidak masuk putaran final kompetisi. Bank Indonesia hanya meloloskan Standard Chartered Bank dan Farallon. Keduanya dipilih karena memiliki pengalaman mengurus bank.

Singkat cerita, pada Februari 2002, persaingan merebut BCA dimenangkan oleh Farallon yang berani membeli BCA sebesar US$ 530 juta. Sejak saat itu, keluarga Salim tak lagi memiliki BCA seutuhnya. Kelak, sekitar tahun 2007, Djarum menguasai BCA sepenuhnya usai membeli 92,18% saham Farallon di Farindo Investment. Farindo Investment adalah perusahaan patungan Grup Djarum melalui Alaerka, dan Farallon.

Kini, di tangan pemilik baru BCA menjelma sangat besar. Sejak 66 tahun berdiri, BCA tetap mempertahankan predikat sebagai bank swasta terbaik di Indonesia dengan nilai kapitalisasi sebesar Rp 1.067 Triliun per 21 Februari 2023.

Melihat besarnya BCA, Sudono Salim kepada Richard Borsuk, menyebut kehilangan BCA adalah sesuatu yang sangat perih. Ini memang wajar. Seandainya krisis 1998 tak terjadi, BCA pasti tetap menjadi milik Salim. Meski demikian, siapapun pasti mengingat bahwa BCA adalah buah keringat Sudono Salim dan Mochtar Riady, dulu direktur BCA yang kini bos Lippo Group. https://kamusgakjelas.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*